Bimbingan Konseling Pribadi Sosial

self improvement…caring others…loving God (LoGos SEFT)

Konsep Dasar Kompetensi Pribadi Sosial

Ada beberapa referensi yang berkaitan dengan definisi kompetensi :
A competency refer to an individual’s demonstrated knowledge, skills or abilities (KSA’s) performe to a specific standard. Competencies are observable, behavioral acts that require a combinataion of KSAs to execute. They are demonstrated in a job context an as such, are influenced by an organization’s culture and work environment. In other words, competencies consist of a combination of knowledge, skill, and abilities that are necessary in order to perform a major task of function in the work setting. (JGN Consulting Denver. USA; 1998).

Competency comprises knowledge and skills and the consistent application of that knowledge and skills to the standard of performance required in employment (Competency Standart Body, Canberra; 1994).

Competency models that identify the skills, knowledge, and characteristics needed to perform a job … (A.D. Lucia & R. Lepsinger/Preface xiii; 2000).

Dari ketiga definisi di atas dapatlah dirumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar performansi yang ditetapkan.
Secara umum pengertian kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seseorang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugasnya, sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, efektif, dan efisien.
Apabila dimaknai secara konseptual yang dimaksud dengan kompetensi adalah merujuk kepada lingkup kemampuan dasar melakukan suatu kegiatan atau sebagai pengetahuan dan urutan pilihan yang diperlukan dalam melakukan suatu kegiatan. Esensinya adalah kecakapan membuat dan melaksanakan urutan pilihan dalam upaya mencapai tujuan. Apabila dipandang secara operasional kompetensi adalah pandangan atau pemikiran seseorang dalam hal pemilikan kekuatan atau kelemahan kompetensi atau gabungannya. Kriteria baik tidaknya pilihan tersebut terletak pada memperkuat atau tidaknya pilihan tersebut pada kehidupan psikologis.
Pada hakekatnya kompetensi adalah kemampuan seseorang dalam berperilaku mencakup pengetahuan dan keterampilan yang dapat terlihat dari performansinya di kehidupan sehari-hari. Konsep tentang kompetensi pribadi sosial adalah kemampuan berperilaku seseorang terkait dengan pribadi individu dan orang lain atau lingkungannya yang didasari dengan adanya komitmen transcedental, yaitu dengan pencipta-Nya.
Musfir bin Said (2005) menjelaskan secara komprehensif bahwa dalam Al-Qur’an mengulas ciri khas kaum beriman, diantaranya sebagai berikut.
a. Ciri khas dari sisi akidah, di antaranya beriman kepada Allah, rasul-Nya, kitab-Nya, malaikat-Nya, hari akhir, hari kebangkit¬an, hari pembalasan, surga, neraka, hal-hal gaib dan takdir, baik yang baik maupun buruk.
b. Ciri khas dari sisi ibadah, di antaranya beribadah kepada Allah dengan mengerjakan semua kewajiban seperti shalat, zakat, puasa, haji, jihad di jalan Allah dengan harta dan juga jiwa, bertakwa kepada Allah dan selalu mengingat-Nya, memohon ampun pada-Nya, tawakal kepada-Nya dan selalu membaca Al-Qur’an.
c. Ciri khas dari sisi interaksi sosial, di antaranya menjaga hu¬bungan baik dengan sesama, menghormati, berbuat baik, saling menolong, saling bersaudara dan bersatu, menyeru kepada ke¬baikan dan melarang akan kemungkaran, suka memaafkan, menjadi teladan baik dan juga menghindarkan diri dari sikap main-main.
d. Ciri khas dari sisi interaksi dengan kelurga, di antaranya ber¬bakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada kerabat, mempergauli pasang¬an (suami / istri) dengan baik, bersikap lemah lembut kepada anak dengan mengasuh dan mendidik mereka serta memberi¬kan nafkah kepada mereka.
e. Ciri khas akhlak, di antaranya sabar, lemah lembut, jujur, adil, amanah, menunaikan janji kepada Allah dan juga kepada ma¬nusia, menjaga kesucian diri, rendah diri, membela kebenaran karena Allah, menjaga kemuliaan diri, memiliki keinginan yang kuat dan juga dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya.
f. Ciri khas emosi, di antaranya cinta Allah dan rasul-Nya, cinta manusia dan cinta kebaikan bagi mereka, takut Allah dan azab¬Nya, mengaharap rahmat Allah, menahan amarah, mampu me¬ngendalikan amarah, tidak sewenang-wenang kepada orang lain, tidak menyakiti sesama, tidak mendengki, tidak mem¬bangga-banggakan diri, bersiap penuh kasih sayang, mencela diri dan menyesal apabila telah melakukan kesalahan dan dosa lalu bertobat kepada-Nya dan meminta ampunan-Nya.
g. Ciri khas akal, di antaranya berpikir akan penciptaan alam semesta dan seluruh penciptaan-Nya, mencari ilmu pengetahu¬an, tidak menyandarkan sesuatu kepada prasangka belaka, meneliti suatu kebenaran dan juga memiliki kebebasan berpikir dan berakidah.
h. Ciri khas kehidupan keseharian dan pekerjaan, di antaranya ikhlas dalam mencari ilmu dan memahaminya dengan benar serta bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah kehidupan. Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bekerja secara profesional”
i. Ciri khas fisik, di antaranya kuat, sehat, bersih dan suci. Sesungguhnya akal yang sehat berada di dalam tubuh yang kuat.
Penggambaran orang-orang yang beriman dengan perpaduan semua ciri khas di atas haruslah terekam dalam pikiran manusia hingga penggambaran ini mampu terealisasi dalam masyarakat. Selain itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk mendidik dan me¬ngarahkan anak-anak kita dan generasi setelahnya hingga mereka mampu memiliki kepribadian yang baik dan mampu memiliki ciri khas orang-orang yang beriman. Sesungguhnya hanya golongan kaum berimanlah yang mampu membentuk sebuah masyarakat Islami yang diidam-idamkan.
Pendekatan Islam mengenai kompetensi pribadi-sosial tidak terlepas dari junjungan besar Nabi Muhammad SAW sebagai model dan suri tauladan dalam berperilaku dan kepeduliannya terhadap orang lain. Allah menggambarkannya dalam surat At-Taubah ayat 61:

Artinya: ” Katakanlah: “Ia memercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.
Islam mengisyaratkan bahwa pribadi muslim sejati harus beriman dan mencintai Allah dan menjadi rahmat serta bermanfaat bagi orang lain. Selain itu seorang muslim dituntut untuk selalu melakukan perbaikan diri seperti di dalam hadits dijelaskan bahwa Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang yang beruntung (HR Dailami).
Merujuk pada Connecticut Comprehensive School Counseling Program yang dikembangkan oleh The Connecticut School Counselor Association (CSCA) mengemukakan bahwa domain pribadi-sosial merupakan serangkaian kegiatan yang membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan interpersonal baik secara pribadi maupun kelompok. Domain pribadi-sosial memiliki tiga aspek, yaitu: (1) menghargai diri sendiri dan orang lain (2) keterampilan pencapaian tujuan (3) Keterampilan rasa aman (safety) dan bertahan (survival). Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam kompetensi ada keterampilan yang diharapkan dapat memenuhi penguasaan suatu kompetensi.
Malikail & Stewart (2003) mengemukakan tentang definisi keterampilan pribadi-sosial sebagai berikut:
Personal and Social Skills is that complex of knowledge, values, attitudes and abilities which contribute to the development of a sound moral character, a sense of community, and competence in responding to the personal, social and cultural aspects of life.

Keterampilan pribadi-sosial mencakup pengetahuan dan wawasan yang luas, nilai-nilai, sikap dan kemampuan yang berkontribusi pada pengembangan moral, karakter, dan sadar akan lingkungan serta kemampuan merespon kondisi pribadi, sosial dan aspek-aspek kebudayaan dalam mengarungi kehidupan.
Istilah Keterampilan Pribadi-sosial menurut SP Sukartini (2005 : 302-305) merupakan hal-hal yang menyangkut (5-R) yaitu: (a) responsifitas: kesadaran eksistensial, kesadaran akan perasaan-perasaan, kesadaran akan motivasi-dalam (inner-motivation), dan sensitivitas terhadap kecemasan dan rasa bersalah. (b) realistis: menunjuk kepada kompetensi berpikir (c) relasional: kompetensi memulai suatu tindakan, membahas, membuka diri, mendengarkan, menunjukkan kepedulian, kerjasama, membandingkan dan mengelola kemarahan dan konflik (d) rajin-produktif: pengenalan minat-minat, kompetensi bekerja, kompetensi belajar, kompetensi menggunakan waktu senggang (e) religi moral-etika: sikap dan perilaku moral-etis dan norma-norma agama. Sedangkan Keterampilan Sosial adalah berkaitan dengan: (a) empati; penuh pengertian, tenggang rasa, kepedulian pada sesama (b) afiliasi dan resolusi konflik; komunikasi dua arah/hubungan antar pribadi-sosial, kerjasama, penyelesaian konflik (c) mengembangkan kebiasaan positif; tata krama/kesopanan, kemandirian, tanggung jawab sosial.
Syamsu Yusuf (2004:97) mengemukakan bahwa pada dasarnya layanan bimbingan dan konseling merupakan proses pemaknaan diri dalam kebermaknaan sosial, atau proses pengembangan pribadi yang bercirikan keshalihan individual (ritual) dan kesalihan sosial. Berdasarkan makna di atas, maka layanan bimbingan dan konseling ditujukan untuk membantu individu agar; (1) Memiliki kesadaran akan hakikat dirinya sebagai makhluk atau hamba Allah (2) Memiliki kesadaran akan fungsi hidupnya di dunia sebagai khalifah Allah (3) Memahami dan menerima keadaan dirinya sendiri (kelebihan dan kekurangannya) secara sehat (4) Memiliki kebiasaan yang sehat dalam cara makan, tidur dan menggunakan waktu luang (5) menciptakan iklim kehidupan keluarga yang fungsional (6) mengamalkan ajaran agama (beribadah) sebaik-baiknya,baik yang bersifat hablumminallah maupun hablumminannas. (7) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar atau bekerja yang positif (8) memahami masalah dan menghadapinya secara wajar, tabah atau sabar (9) Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah atau stress (10) mampu merubah persepsi atau minat (11) tidak menyesali peritiwa (musibah) yang telah terjadi, karena seburuk apapun musibah itu pasti ada hikmahnya (12) tidak mendramatisir keadaan, tidak emosional dalam menafsirkan peristiwa yang menimpa, berusaha meredamnya dengan instropeksi diri.
Berdasarkan berbagai rujukan tersebut di atas maka kompetensi pribadi-sosial berkenaan dengan penelitian ini, santri yang memiliki kompetensi pribadi-sosial ditandai sebagai kompetensi yang berkenaan dengan pemerolehan kesadaran diri dan kolektif, harga diri (self esteem), memiliki kesadaran nilai sehingga dapat hidup mandiri dan bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan, keterampilan hubungan interpersonal, berkomunikasi, menghargai perbedaan dan bekerja sama, dan kemampuan resolusi konflik.

August 1, 2009 - Posted by | Konsep Dasar

3 Comments »

  1. Assalamu’alaikum,
    Apa kabar Bu? Ngak sengaja nih dapet blog ini, mudah-mudahan masih ingat saya, kawan lama, tetanggan waktu dulu kost di Ledeng🙂 Mantap nih udah S2, sekarang di Yogya ya?

    Comment by ismet | October 12, 2009 | Reply

    • Wa alaikumsalam Ismet,
      yang kosnya di nehi bukan? yg kuliah di itb? punten hilap deui.
      sumuhun abdi di jogja

      Comment by dianasepti | April 27, 2010 | Reply

  2. Assalamu’alaikum,,
    Ibu saya mahasiswi dari BKI UIN SU-KA,,mau menanyakan tentang materi mid semester, terus mid nya apakah dengan tugas ataukah soal seperti biasanya??
    Sebelum dan sesudahnya terimakasih.

    Comment by eviyulianti | October 30, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: